Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, September 30, 2017

Pesan Untukmu, Kekasih





Kekasih, bagaimana kabarmu hari ini? Sudahkah kau membaca pesanku? Aku sedang berada di gerbong 5/12A. Dalam perjalanan Pasar Senen-Purwokerto yang pernah menjadi awal hubungan kita. Aku kirim pesan itu tepat setelah kereta berangkat. Tepatnya setelah aku berhasil menata napas yang berlari-lari dikejar waktu. Kau tau kan, kalau kereta tidak pernah ingkar waktu meski ekonomi sekali pun.

Pagi tadi aku bangun dengan terburu-buru. Bukan karena tas yang belum dikemas. Tapi hati ini begitu cemas. Memikirkan kamu yang tak kunjung memberi kepastian. Padahal kau tau aku tak pernah sedikit pun membiarkanmu kesepian. Sembilan jam perjalanan akan aku lalui hari ini. Kau tidak perlu khawatir perjalanan panjang ini tidak akan membosankan untukku.

Bagaimana tidak? Berada di gerbong ekonomi Serayu terasa begitu dingin dengan pendingin ruangan yang selalu menyala sepanjang perjalanan. Bajuku yang panas berkeringat karena lari, bisa tidak lebih dari sejam langsung kembali kering. Belum lagi pemandangan pegunungan yang hijau menyejukkan mataku.

Kekasih, kau tidak perlu khawatir aku lupa makan. Tidak, jangan balas pesanku tadi dengan, “Sudah makan belum?”. Kau harus tau beberapa menit sekali para pramusaji berjalan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Menjajakan makanan yang banyak jenisnya. Aku tinggal membelinya satu sebagai sarapan sekaligus makan siang.

Irit? Ah, tidak juga. Kalau kau tahu, aku bisa membeli dua porsi makanan di luar kereta ini. Tapi aku harus membelinya hanya seporsi karena ini di atas kereta. Aku tidak ada pilihan untuk memilih yang lebih murah apalagi menawar. Tidak ada penjual lain selain pramusaji yang berseliweran tadi. Tidak ada ibuk-ibuk yang berteriak, “Pecel, pecel, pecel!”. Dan teman-temannya yang mulai terusir dari kereta semenjak tahun 2013-an.

Kau juga tidak perlu khawatir, semenjak itu juga keadaan di dalam kereta menjadi aman dan nyaman. Dapat dipastikan hanya ada penumpang dan petugas kereta saja yang ada di sepanjang perjalanan. Tidak ada pengamen yang bernyanyi cempreng. Tidak ada copet yang suka mepet-mepet.

Sepi? Iya, apalagi tidak ada kamu yang sesekali meminjamkan bahu ketika mataku mulai sayup mengantuk. Memang sudah ada penyewaan bantal yang wangi nan empuk. Tapi itu tidak begitu membantu, karena tempat duduk yang senderannya berdiri tegak lurus 90o ini tetap saja membuat punggungku panas. Belum lagi bangku yang busanya mengeras.

Kekasih, seharusnya kau kirimkan pesan padaku, “Sudah sholat belum?”. Aku akan menghela napas panjang kelimpungan membalas pesanmu yang satu ini. Bukan karena memang aku belum pernah bisa sholat tepat waktu. Tapi aku bingung harus sholat di mana. Tenang, untung saja ada tempat duduk kosong di ujung gerbong. Coba kalau semua tempat duduk sepanjang gerbong terisi. Aku bisa melewatkan waktu dhuhur, azhar, dan mungkin saja magrib dalam sehari ini.

Jangan tanya untuk wudhunya bagaimana? Semua aku lakukan seadanya dalam kamar mandi yang airnya ikut bergoyang seiring kereta yang berjalan. Aku tahu seharusnya ini bukan penghalang, apalagi cari-cari alasan. Tapi bolehkan aku berharap bisa beribadah dengan nyaman?

Kekasih, jangan lupa kau harus menjemputku tepat waktu. Jangan biarkan aku terlunta-lunta nyaris menginap lagi di stasiun. Di dalam stasiun memang terjamin keamanannya. Tapi penumpang tidak dibiarkan berada terus-terusan di dalam stasiun. Aku harus keluar walau hari sudah malam. Dan di luar stasiun itu tidak ada yang menjamin keselamatanku, kekasih. Siapa saja bisa menyeretku, memaksa, dan entah apalagi meski aku masih di dalam pagar stasiun.

Aku tahu ini tidak seberapa dibandingkan dulu. Tapi boleh kan aku berharap lebih baik lagi? Kau tahu kekasih, kereta ini bukan baru kemarin sore ada di negeri ini. Ia sudah ada dari 72 tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu. Hanya saja angka 72 adalah angka resmi PT KAI bergabung dengan NKRI.

Kekasih, kalau kita sudah 72 tahun akan seperti apa? Kita pasti sudah menua dan punya cucu. Cucu kita kelak mungkin akan menemukan jodohnya di kereta super cepat. Kereta yang lebih aman dan nyaman dari pada sekarang. Kereta yang mungkin bukan hanya menghubungkan satu kota ke kota lain tetapi satu pulau ke pulau lain. Kau pasti tahu, kekasih, negeri kita ini kepulauan. Bukan tidak mungkin bila hal itu terwujud.

Tapi bukan itu intinya. Bukan apa-apa saja yang sudah berubah dan kita dapatkan setelah waktu berjalan. Tapi bagaimana kita bisa berproses terus lebih baik melalui segala rintangan. Terus berinovasi seiring perkembangan jaman. Seperti kereta ini, tetap setia mengantar penumpang selamat sampai tujuan.

Aku tahu, aku juga punya kekurangan, kamu pun demikian. Tapi ingatlah kekasih, orang yang penuh kekurangan itu bukan mereka yang dalam keadaan buruk. Tapi mereka yang tidak mau berproses dan tetap terpuruk.

Salam,
-kasih-

Thursday, August 24, 2017

Galau Permanen



Bolehkah saya galau? Tentu boleh. Siapa yang bisa melarang perasaan? Bukankah setiap hati yang bernyawa berhak punya rasa. Tidak apa galau gelisah gundah gulana. Asal tahu waktunya, asal tahu caranya, asal tahu tempatnya, jangan sampai asal-asalan.

Sebab dari masalah seringnya tidak tahu waktu, menjadi malu yang berujung pada malu-maluin. Padahal semua orang mungkin pernah merasakan hal yang sama. Tapi ketika galau yang sama menimpa orang lain, ada saja yang menertawakannya.

Galau selalu punya masanya.

Saat masih kecil, kita sangat bingung kelimpungan hanya karena belum mengerjakan PR matematika. Beranjak remaja, PR matematika terasa biasa berganti resah hanya karena gebetan tidak membaca pesan. Sedikit dewasa, PR tidak pernah jadi masalah, pasangan mulai mendapatkan yang nyaman, tinggal pusing lulusnya kapan. Sudah lulus, sudah punya pasangan, tapi kantong kempes tidak punya penghasilan. Kantong terisi, perut kian membuncit, giliran “kapan nikah?” menghantui tanpa henti. Sudah menikah masih saja bimbang belum ada momongan. Si bayi lahir malahan makin pusing dengan cicilan, si anak yang rewel, tidak bisa jalan-jalan, tidak punya kesenangan.

Masihkah kamu ingin beranjak tua?
Sebenarnya masalah di hidup ini adalah tanda kamu masih hidup, masih punya otak untuk berpikir. Kok menyebalkan, ya? Mau bagaimana lagi, justru hidup tanpa masalah itu seperti sayur tanpa garam. Hambar tidak ada rasanya. Lalu bagaimana caranya agar tidak keasinan? Gampang, tinggal tambah gula. Mau pedas? Tambah cabai.

Saya bukan orang baik yang hidupnya baik-baik saja. Saya bukan siapa-siapa yang punya apa-apa. Pekerjaan tetap tidak punya, bahkan banyak orang menganggap saya sebagai pengangguran. Pasangan tidak punya, tampang pas-pasan, pendidikan rendah, solehah pun tidak.

Tapi ketika saya melihat sekeliling, mengapa saya yang terlihat paling bahagia? Saya menulis ini dengan geli segeli-gelinya. Bagaimana tidak, hidup saya penuh timbunan masalah. Tapi mereka yang hidupnya jauh lebih baik dari saya justru tidak terlihat bahagia. Mengeluh terus kerjaannya. Sampai-sampai tidak ada ruang sedikit pun di hidupnya, walau hanya sedetik saja ada warna.

Saya sering tertawa bila ada teman datang dengan membawa berkarung-karung kegalauan. Ketika mereka galau karena percintaan, saya suruh putuskan saja, mereka malah semakin memaki saya. Ketika mereka galau karena pekerjaan, saya suruh keluar saja, mereka semakin menderita. Pun dengan mereka yang galau karena disuruh lekas menikah tapi tak ada pasangan. Mereka yang tidak punya uang, kerjaan pun tak pernah datang.

Dari segala macam kegalauan itu satu hal yang saya pahami. Bahwa kegalauan itu tidak ada urusannya dengan status, masalah, atau pun ketiadaan. Mereka yang ada dan berada tidak bisa menghindari kegalauan. Karena galau adalah sikap dan sifat.

Orang yang memilih galau sebagai sifatnya, masalah dalam hidupnya tidak akan pernah selesai, kapan pun juga. Galau jomblo, sudah dapat pasangan makin galau. Galau tidak punya uang, sudah dapat kerjaan makin galau. Beda dengan orang yang memilih galau hanya sebagai fase tahapan dalam hidupnya. Mereka tetap bahagia ketika berada dan ketiadaan.

Banyak sekali orang yang senang tenggelam dalam kegalauan. Ketika ditolong justru tidak mau, malah semakin galau ketika masalah itu berakhir. Lebih banyak lagi orang yang punya segalanya, justru segalanya itu ada karena galau selalu melanda.

Saya tidak mengerti mengapa orang-orang mempermasalahkan jomblo, pengangguran, bodoh, jelek, perawan tua, atau mandul sebagai sumber masalah. Padahal asal kalian tahu orang yang punya pasangan, pekerjaan mapan, jabatan, cantik, pintar, keluarga dan anak tidak ada yang bebas dari masalah.

Kalau saya ceramah begini kalian mungkin akan teriak, “Kamu ngga ngerasain, sih!?!”

Oke, mungkin saya tidak merasakan apa yang sedang kalian alami. Saya hanya bisa berpesan, hatimu itu berhak punya kebahagian. Rawat dia jangan sampai terluka. Ini bukan untuk orang lain, ini untuk dirimu sendiri. Hidup ini sungguh sangat mudah, yang membuat susah terkadang manusia senang mencari masalah.

Tidak apa, kamu miskin, jelek, jomblo, mandul, dan lain sebagainya. Hal-hal mengenai kesuksesan duniawi yang anggapan orang itu, hanya enak dilihat saja kok. Sama sekali tidak enak dirasakan. Seorang ibu penjual rawon yang saya temui dalam perjalanan berpesan, “Jangan jadi orang sukses, Mba. Orang sukses susah tidurnya.”

Menjadi sukses, kaya, pintar, cantik, menikah, punya anak, dan segala macam tetek bengek tolok ukur kesuksesan dunia itu sangat mudah. Menjadi susah itu ketika kamu tidak bisa menyeimbangkannya. Percayalah, lebih mudah lolos dari kemiskinan daripada mengatasi sombongnya kekayaan.

Lalu bagaimana lolos dari kegalauan yang berkepanjangan?

Kalau kalian galau karena belum menikah, lolos dari kegalauan itu bukanlah cepat menikah. Kalau kalian galau karena tidak punya pekerjaan, lolos dari kegalauan itu bukanlah mencari kerja. Kalian harus bisa lolos dari rasa galau itu sendiri. Caranya, berdamailah dengan diri sendiri.

Omongan orang memang tidak akan pernah selesai. Apalagi omongan keluarga, mereka selalu merasa punya kuasa sepenuhnya dalam hidupmu. Termasuk berperan aktif dalam kehancuran hidupmu. Sangat jarang bahkan mungkin sangat sedikit dan nyaris tidak ada. Keluarga yang mau menerima anggota keluarganya apa adanya. Sedikit saja terlihat berbeda dari yang lain, rasanya harus dibinasakan.

Serius.

Kita sesungguhnya bisa mudah lolos dari kegalauan. Tapi sangat susah lolos dari kegalauan yang diakibatkan omongan orang.

Kita berada ditatanan budaya masyarakat yang habis A harus B, B selesai lanjut C, begitu seterusnya. Belum lagi budaya ramah tamah yang sesungguhnya cuma basa-basi-busuk. Ketika satu hal tahapan dalam hidup ini berbeda dengan yang sewajarnya, musnahlah kamu dari dunia. Siap-siap saja jadi bahan nyinyir umat di dunia.

Lalu bagaimana lolos dari nyinyir umat di dunia terutama keluarga?

Ini susah-sangat susah, terutama ada embel-embel keluarga. Mau dibantah, nanti durhaka. Dituruti, nyinyirnya setengah mati. Tenang saja kalau kalian sudah punya bahan untuk dipamerkan, mereka akan diam dengan sendirinya. Nyebelin sih, tapi itulah salah satu peran keluarga. Menjadikan kamu objek pamer semata.

Saya tidak bisa memberi saran secara pasti soal keluarga ini. Karena keluarga saya dan kalian tentunya berbeda. Bagi saya keluarga hanyalah status belaka, yang mengatur saya bahagia atau tidak tetap saya sendiri. Tuhan mengatur saya lahir di keluarga ini bukan tanpa alasan. Saya juga punya pilihan untuk ada atau tidak bersama mereka. Bukan berarti tidak ada cinta lagi. Hidup bersama bertahun-tahun tentu ada rasa. Hanya saja saya bangga dengan apa yang saya lakukan, sedangkan mereka tidak berada dalam zona yang sama dengan saya.

Kalau kalian mau terhindar dari galau yang permanen itu, ayolah mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu ingin menjadi orang lain, kamu tidak tahu ada apa dibalik kesuksesan seseorang. Jangan memulai obrolan yang berpotensi menyinggung perasaaan orang lain. Kalau kalian merasa tidak enak diberi pertanyaan itu, ya, jangan tanya ke orang lain. Dan mulailah berdamai dengan diri sendiri. Hidupmu sungguh lebih berarti, dimulai dari dirimu sendiri. Bahagiakan hatimu, bahagiakan hidupmu.

Tabik!

Thursday, April 18, 2013

Kejamnya UN

Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami ujian. Dan ujian untuk sebagian besar orang dipandang sebagai masalah. Sebenarnya ujian bukan sekadar masalah tapi adalah tahapan menuju tingkat/jenjang yang berbeda. Contohnya, kalau mau lulus SD harus ujian dulu, kalau mau semester dua harus ikut Ujian Akhir Semester dulu, kalau mau kerja ya ujiannya nganggur dulu. Kamu udah kerja tapi belum pernah nganggur? Berarti kerjamu belum lulus. :)

Dan akhir-akhir ini di negeri kita tercinta sedang heboh-hebohnya Ujian Nasional (UN). Kalau dipikir-pikir, sebenarnya negara ini sudah sering dapat ujian atau masalah. Tidak usah dijabarkan satu-satu masalahnya apa saja. Toh, kita semua juga tau dari semua bidang ada saja masalahnya. Tapi kenapa UN tahun ini jadi heboh? Konon, UN untuk tingkat SMA tahun ini bermasalah karena tidak bisa dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Mengapa bisa demikian? Di berbagai media sudah ada berita lengkapnya jadi saya tidak perlu menjabarkannya disini.

Menurut saya, sebenarnya UN selalu bermasalah. Waktu saya SD tahun 2002, UN dilaksanakan dalam 1 hari. Materi yang diujikan ada 5 mata pelajaran (Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS dan PPKn) setiap mata pelajaran 20 soal jadi total 100 soal dengan waktu mengerjakan hanya 2 jam. 

Translate

Popular Posts