Showing posts with label kamu dan aku. Show all posts
Showing posts with label kamu dan aku. Show all posts

Saturday, September 30, 2017

Pesan Untukmu, Kekasih





Kekasih, bagaimana kabarmu hari ini? Sudahkah kau membaca pesanku? Aku sedang berada di gerbong 5/12A. Dalam perjalanan Pasar Senen-Purwokerto yang pernah menjadi awal hubungan kita. Aku kirim pesan itu tepat setelah kereta berangkat. Tepatnya setelah aku berhasil menata napas yang berlari-lari dikejar waktu. Kau tau kan, kalau kereta tidak pernah ingkar waktu meski ekonomi sekali pun.

Pagi tadi aku bangun dengan terburu-buru. Bukan karena tas yang belum dikemas. Tapi hati ini begitu cemas. Memikirkan kamu yang tak kunjung memberi kepastian. Padahal kau tau aku tak pernah sedikit pun membiarkanmu kesepian. Sembilan jam perjalanan akan aku lalui hari ini. Kau tidak perlu khawatir perjalanan panjang ini tidak akan membosankan untukku.

Bagaimana tidak? Berada di gerbong ekonomi Serayu terasa begitu dingin dengan pendingin ruangan yang selalu menyala sepanjang perjalanan. Bajuku yang panas berkeringat karena lari, bisa tidak lebih dari sejam langsung kembali kering. Belum lagi pemandangan pegunungan yang hijau menyejukkan mataku.

Kekasih, kau tidak perlu khawatir aku lupa makan. Tidak, jangan balas pesanku tadi dengan, “Sudah makan belum?”. Kau harus tau beberapa menit sekali para pramusaji berjalan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Menjajakan makanan yang banyak jenisnya. Aku tinggal membelinya satu sebagai sarapan sekaligus makan siang.

Irit? Ah, tidak juga. Kalau kau tahu, aku bisa membeli dua porsi makanan di luar kereta ini. Tapi aku harus membelinya hanya seporsi karena ini di atas kereta. Aku tidak ada pilihan untuk memilih yang lebih murah apalagi menawar. Tidak ada penjual lain selain pramusaji yang berseliweran tadi. Tidak ada ibuk-ibuk yang berteriak, “Pecel, pecel, pecel!”. Dan teman-temannya yang mulai terusir dari kereta semenjak tahun 2013-an.

Kau juga tidak perlu khawatir, semenjak itu juga keadaan di dalam kereta menjadi aman dan nyaman. Dapat dipastikan hanya ada penumpang dan petugas kereta saja yang ada di sepanjang perjalanan. Tidak ada pengamen yang bernyanyi cempreng. Tidak ada copet yang suka mepet-mepet.

Sepi? Iya, apalagi tidak ada kamu yang sesekali meminjamkan bahu ketika mataku mulai sayup mengantuk. Memang sudah ada penyewaan bantal yang wangi nan empuk. Tapi itu tidak begitu membantu, karena tempat duduk yang senderannya berdiri tegak lurus 90o ini tetap saja membuat punggungku panas. Belum lagi bangku yang busanya mengeras.

Kekasih, seharusnya kau kirimkan pesan padaku, “Sudah sholat belum?”. Aku akan menghela napas panjang kelimpungan membalas pesanmu yang satu ini. Bukan karena memang aku belum pernah bisa sholat tepat waktu. Tapi aku bingung harus sholat di mana. Tenang, untung saja ada tempat duduk kosong di ujung gerbong. Coba kalau semua tempat duduk sepanjang gerbong terisi. Aku bisa melewatkan waktu dhuhur, azhar, dan mungkin saja magrib dalam sehari ini.

Jangan tanya untuk wudhunya bagaimana? Semua aku lakukan seadanya dalam kamar mandi yang airnya ikut bergoyang seiring kereta yang berjalan. Aku tahu seharusnya ini bukan penghalang, apalagi cari-cari alasan. Tapi bolehkan aku berharap bisa beribadah dengan nyaman?

Kekasih, jangan lupa kau harus menjemputku tepat waktu. Jangan biarkan aku terlunta-lunta nyaris menginap lagi di stasiun. Di dalam stasiun memang terjamin keamanannya. Tapi penumpang tidak dibiarkan berada terus-terusan di dalam stasiun. Aku harus keluar walau hari sudah malam. Dan di luar stasiun itu tidak ada yang menjamin keselamatanku, kekasih. Siapa saja bisa menyeretku, memaksa, dan entah apalagi meski aku masih di dalam pagar stasiun.

Aku tahu ini tidak seberapa dibandingkan dulu. Tapi boleh kan aku berharap lebih baik lagi? Kau tahu kekasih, kereta ini bukan baru kemarin sore ada di negeri ini. Ia sudah ada dari 72 tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu. Hanya saja angka 72 adalah angka resmi PT KAI bergabung dengan NKRI.

Kekasih, kalau kita sudah 72 tahun akan seperti apa? Kita pasti sudah menua dan punya cucu. Cucu kita kelak mungkin akan menemukan jodohnya di kereta super cepat. Kereta yang lebih aman dan nyaman dari pada sekarang. Kereta yang mungkin bukan hanya menghubungkan satu kota ke kota lain tetapi satu pulau ke pulau lain. Kau pasti tahu, kekasih, negeri kita ini kepulauan. Bukan tidak mungkin bila hal itu terwujud.

Tapi bukan itu intinya. Bukan apa-apa saja yang sudah berubah dan kita dapatkan setelah waktu berjalan. Tapi bagaimana kita bisa berproses terus lebih baik melalui segala rintangan. Terus berinovasi seiring perkembangan jaman. Seperti kereta ini, tetap setia mengantar penumpang selamat sampai tujuan.

Aku tahu, aku juga punya kekurangan, kamu pun demikian. Tapi ingatlah kekasih, orang yang penuh kekurangan itu bukan mereka yang dalam keadaan buruk. Tapi mereka yang tidak mau berproses dan tetap terpuruk.

Salam,
-kasih-

Saturday, January 21, 2017

Berswafoto Ria Di Pantai Watu Bale Dan Bukit Panduran



Semesta itu sudah indah apa adanya. Laut, gunung, pohon, air, langit, daratan, dan apa pun itu memang sudah indah dari awalnya. Tinggal bagaimana manusia sebagai makhluk paling sempurna memanfaatkannya.

Di belahan Indonesia bagian mana pun tiap hari nampaknya melahirkan tempat wisata baru. Pergerakan ini terus meningkat seiring berkembangnya media sosial dan kreatifitas masyarakat. Seperti yang terjadi di Kebumen.

Nyaris semua pantai dari Ayah sampai Karang Bolong menjadi objek wisata baru. Banyak postingan di instagram betapa objek wisata baru itu sangat instagramable dengan tempat swafotonya. Sebelum merebak seperti sekarang saya sudah pernah mengunjungi Pantai Ayah dan Pantai Menganti. Dan baru beberapa waktu lalu saya punya kesempatan mengunjungi Pantai Watu Bale.

Selamat datang di Pantai Watu Bale dan Bukit Panduran.



Tuesday, January 17, 2017

Life Goals Saya Menjadi Petani



Beberapa hari yang lalu saya menyaksikan tayangan NET Jateng tentang sosok yang menginspirasi di daerah Jawa Tengah. Kalau tidak salah nama programnya Sambang Sedulur. NET Jateng ini hanya mengudara di sekitar Jawa Tengah. Jadi yang di luar Jawa Tengah hanya bisa melihatya di youtube.
Di acara tersebut menayangkan profil petani muda yang sukses dengan usaha perkebunannya. Saya lupa nama petani tersebut dan di daerah mana perkebunan tersebut berada. Karena saya menyaksikannya tidak dari awal. Hanya sedang menggonta-ganti chanel dan melihat tayangan tersebut.

Yang menarik untuk saya adalah ulasan profesi petani yang sukses itu. Dan di akhir segmen, pembawa acara juga memberikan info penurunan jumlah petani di Jawa Tengah. Terutama petani muda usia produktif. Hal tersebut dikarenakan bidang pertanian yang dinilai kurang menjanjikan untuk masa depan.

Ironis.

Friday, December 30, 2016

Bahayanya Membuat Resolusi Tahun Baru



Akhir tahun mulai terasa. Detik-detik tahun yang baru akan segera tiba. Sudahkah kalian punya resolusi untuk tahun yang akan datang?

Resolusi menurut KBBI sebenarnya berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal. Intinya resolusi itu hasil dari sebuah rapat. Tapi kita jarang mendengar hasil sebuah rapat disebut sebagai resolusi.

Sering kali kita mendengar resolusi dalam bidang fotografi, yang berarti menunjukkan jumlah pixel dalam sebuah foto yang dicetak.

Sedangkan resolusi yang sering dibicarakan orang ketika akhir tahun maksudnya adalah harapan, cita-cita, atau hal-hal yang ingin dilakukan di tahun berikutnya.

Saya sendiri sudah lama tidak membuat resolusi tahun baru. Dulu saya sering melakukannya, menuliskannya di buku catatan atau diary. Bahkan saya tulis begitu detail. Apa yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa penghalangnya, bagaimana cara mengatasinya?

Wednesday, December 14, 2016

Pertemuan Karena JNE Setelah Penantian Bertahun-tahun



Asiiiikkkk, ngeblog lagi! *lompat-lompat*

Ku seneng banget Mamih ngijinin ku nulis lagi di blognya. Setelah kemarin bantuin nulis buat lomba blog dan ngga menang. *horayyy! Sukurin!* Sekarang ku cuma pengin nulis aja, ngga ngarepin apa-apa lagi deh.

Cerita apa ya? Hmmm, cerita dari pertama aku diuwel-uwel, dililit-lilit, kemudian lahir aja kali, ya.

Jadi, yang bikin aku itu Tante Kiki orang Surabaya. Orangnya jago banget urusan amigurumi, rajut-merajut, pokoknya yang urusannya sama benang deh. Banyak teman-temanku yang jadi lucu-lucu di tangan Tante Kiki. Ku cuma bisa pasrah waktu Tante Kiki merangkai ku, tusuk demi tusuk. Tusuk sana-tusuk sini, lilit sana-lilit sini, sambung sana-sambung sini.

Setelah selesai, Tante Kiki memasukkan ku ke sebuah kardus snack. Tanpa menyertakan snack-nya. Jahat banget ih, dia pikir ku ngga laper apa. Udah gitu kardusnya kecil, kan sempit. Ku cuma bisa diem dalam kardus.

Entah mau dikirim ke mana? Ke siapa? Ku ngga tau. Dari balik kardus ini, ku cuma bisa mengintip. Ku sedang ada di ribuan paket yang sama seperti kardusku ini. Ada yang gepeng lempes, kotak item empuk. Ada yang kecil-kecil kaya ku. Wow, ada yang gede banget. Sumpeh itu gede banget, segede orang. Mungkin isinya orang dipaketin.

Tante Kiki melambai-lambaikan tangannya, ketika ku mulai masuk ke mobil. Bye, Tante Kiki, semoga kita bisa ketemu lagi, ya. Seketika itu mata ku basah. Ini siapa yang olesin balsem sih? Perih. Lagian ku kan bukan tukang mabok. Ku bisa tahan sehat selamat sampai tujuan kok.

***

Ku laper. Ku pusing. Ku kaget. Entah siapa yang teriak, cempreng banget suaranya. Sampai ku kebangun dari tidur ku. Ku ngga tau udah berapa jam cuma bisa diem dalam kardus ini. Yang pasti ku sudah pergi jauh dari Surabaya.

Begitu kardus ku terbuka, “Aaaaaaa!”
                                                                                                                               
“Aaaaaaa! Akhirnya kamu dateng juga,” saya berteriak begitu melihat isi kardus snack yang sudah saya tunggu dua hari ini.

Akhirnya bocah ini datang juga.
Kero, si kecil yang lucu, punya sayap tapi tidak bisa terbang. Saya memutuskan untuk mengadopsinya sekitar tiga bulan yang lalu. Sebenarnya keinginan itu sudah ada sejak saya masih duduk di bangku kelas 5 SD.

Waktu itu teman sebangku saya, Uli, memang orang yang senang membaca. Dia punya banyak sekali buku dan komik. Salah satunya komik dari Jepang yang berjudul Cardcaptor Sakura. Kalian yang lahir tahun 90-an pasti tidak asing dengan komik ini. Dan tentu mengenal karakter Kero. Makhluk kecil yang bangun dari “tidurnya” karena Sakura membuka buku yang berisi clow card.

Berbekal iseng ingin mengenang masa-masa indah waktu kecil. Pencarian pun dimulai untuk menemukan si Kero ini. Ada beberapa pilihan sebenarnya, tapi akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada amigurumi buatan Mbak Kiki.

Karena handmade, saya harus menunggu tiga hari untuk pembuatan Kero. Tepat di hari ketiga Mbak Kiki mengabari, si Kero sudah dipaketkan dengan JNE. Hati saya terasa berpacu dalam melodi, senang riang nan gembira menanti si kecil mungil yang sudah saya inginkan sejak lama.

Satu hari berlalu, saya mulai khawatir si kecil ini nyasar tidak tahu jalan. Akhirnya saya hubungi mbak-mbak CS via telepon. Ternyata si Kero sudah ada di rumah tetangga. Iya, tetangga saya ini ternyata agen JNE di kampung saya.

Wohooo!

Tahu begini saya tidak perlu repot-repot lagi kalau dapat paketan via JNE. Maklum kampung saya jauh dari pusat kota. Kalau lewat jasa pengiriman lain bisa lama sampainya. Walaupun sudah pakai paket yang kilat. Untung tetangga saya ini orangnya enakan. Karena tetangga saya ini pasti langsung menghubungi saya begitu paket sampai.

Setelah paket si Kero datang, paket-paket lain hasil endorse akun sebelah pun semakin mudah berdatangan. Apalagi paket dari akun sebelah seringnya makanan yang diwajibkan harus segera sampai. Sebelum remuk, sebelum basi, dan sebelum dimakan sama mas-mas kurirnya. Hahaha.

“Apa, Mih? Makanan? Mana, Mih? Ku laper!!!” si Kero tampaknya selalu antusias kalau urusan makanan.

“Heh, bocah makanan mulu yang dipikirin!” saya membentak Kero dengan lirikan tajam.

“Habisnya Tante Kiki sih ku dimasukin ke kardus snack. Tapi ngga ada snack-nya. Mih, lah. Mamiiiiihhhh, kuuuu laperrrr!!!” rengek si Kero, memelas seperti anak kecil.

“Berisik deh. Tau kamu berisik begini kemarin Mamih paketin lagi aja mumpung lagi HARBOKIR.”

“Harbokir?!? Apaan itu, Mih? Semacam donat, ya?”

“Hadeh, ini bocah makanan mulu yang dipikirin,” saya menggelengkan kepala, heran kenapa ini anak seneng banget makan. “Harbokir itu Hari Bebas Ongkos Kirim. Kamu pernah jadi paket kan?”

“Iya, pernah, Mih. Woh, paketan kaya ku dulu itu ternyata banyak banget tau. Ku liat sendiri, Mih. Kaya gunung.”

“Nah, di harbokir kemarin tanggal 26-27 November 2016, paketan yang kamu bilang kaya gunung itu gratis ongkos kirim ke 55 kota besar seluruh Indonesia. Cilacap juga masuk dalam 55 kota itu. Harbokir ini dalam rangka ulang tahun JNE yang ke-26. Kan lumayan kalau kamu Mamih paketin lagi. Mamih jadi ngga perlu pusingin ongkos kirimnya.”

“Maksudnya? Ku mau dibuang, gitu?! Jahatnyaaaa!!!!” anak ini kini bukan hanya merengek tapi menangis bercampur teriak.

“Makanya pikiranmu itu jangan makan melulu. Kerja kek, biar dapet duit yang banyak. Jadi terserah mau makan apa pun yang kamu mau.”

“Iya, deh. Nanti aku cari uang yang banyak.”

“Oia, nanti kalau kamu pesen makanan online. Jangan lupa kirimnya pakai JNE Express, ya?”

“Emang kenapa mesti pakai JNE Express, Mih?”

“Ya biar cepet, donk. Kalau pesen makanan kan harus cepet sampai.”

“Okelah. Tapi ku jangan dibuang, ya Mih?"

“Ya, ngga akan lah. Kan harbokirnya juga udah lewat. Kalau Mamih mau buang kamu, Mamih juga ngga mau rugi kali.”

“Dih, dasar emak-emak pelit!”

“Ngomong apa kamu?!”

“Ngga ngomong apa-apa kok. Ku sayang Mamih. Kiss kiss!”

Saya dan Kero yang tukang makan
Walau anak ini memang menyebalkan, tapi dialah sumber bahagiaku. Terima kasih, Nak. Kamu sudah datang di kehidupan Mamih, “Mamih juga sayang kamu, Nak. Kiss kiss.”
Ikuti lomba blog cerita baik bersama JNE.

Monday, December 12, 2016

Travelling Itu Sederhana, Pikiranmu Saja Yang Rumit



Tadi siang, saya mendapat pesan dari seorang teman. Isinya, mengajak saya pergi ke tempat wisata. Saya sudah bilang tidak bisa karena ada beberapa kerjaan yang belum selesai. Teman saya tidak percaya karena dia mengajaknya di hari Minggu. Yang pada umumnya semua orang libur berjamaah di hari itu.

Mulailah dia mengeluarkan segala bujuk rayu, yang tetap saja saya tolak. Menariknya adalah bagaimana dia merayu saya. Hampir semua teman saya bila mengajak saya pergi selalu mengeluarkan dalih yang sama. Saya tertawa kecil membacanya dan terpikir, apakah saya memang orang seperti itu?

“Ayolah, kamu kan sering jalan-jalan.”

Hanya karena saya sudah berjalan sampai ke pulau seberang, apa predikat sering jalan-jalan pantas untuk saya? Saya merasa itu tidak cukup. Banyak yang berjalan lebih jauh dan lebih lama dari saya. Apa karena saya sering membagikan foto-foto saya di instagram lantas bisa dibilang traveller? Tentu bukan karena itu. Foto bisa saja dari masa lalu yang dibagikan ulang. Lagian saya posting foto bukan hanya karena fotonya, tapi ceritanya.

Monday, October 24, 2016

Jelajah Jawa Tengah Dari Kaki Gunung Sampai Pantai Bersama Mamih



Hai, aku Kero!

Hai, para pejalan!

Perkenalkan, aku Kero, punya sayap tapi belum bisa terbang. Aku sama seperti anak jaman sekarang yang selalu ingin dibilang kekinian. Bukan lebay, tidak tahu diri, atau hanya meninggikan gengsi. Aku pikir semua jaman juga ada kekiniannya masing-masing. Semua orang suka atau tidak suka pasti pernah merasakan kekinian di jamannya. Walau hanya sekali saja.

Belum genap dua bulan aku diadopsi oleh @kisahkasih_. Ya, dialah Mamihku sekarang. Aku tuliskan ceritaku ini karena si Mamih selalu bilang, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari.” Kata-kata yang itu dia kutip dari bukunya Pramudya Ananta Toer, penulis idolanya Mamih.

Awalnya aku sama seperti kalian. Senang sekali menulis dengan kata-kata yang unik atau temannya Mamih bilang itu alay, sampai susah dibaca. Tapi Mamih bilang, “Tidak apa kamu ingin berbeda, tapi jangan lupa berbagi dengan yang lainnya jauh lebih berharga. Kalau tulisanmu hanya bisa kamu baca sendiri, buat apa?”

Wednesday, October 5, 2016

Nyala Obor



Nang, sarapan dulu! Sudah Mamak gorengkan mendoan nih,” kata Mamakku dari dapur.
“Iya, Mak!” jawabku sambil buru-buru memasukkan buku pelajaran dan latihan-latihan soal ke dalam tasku.
Hari masih sangat terlalu pagi. Adzan subuh pun belum berkumandang. Pak Kiai jam segini paling juga baru bangun tidur. Sementara Mamakku pasti sudah menyiapkan sarapan untukku. Entah jam berapa Mamak bangun tidur. Yang aku tahu Mamak tidak pernah terlihat mengantuk. Senyumnya selalu mengantarkanku pergi ke sekolah setiap pagi.
“Mak, aku berangkat sekolah dulu,” pamitku sambil mencium tangan Mamak setelah selesai sarapan.
“Iya, Nang. Oia, ini uang buat bayar iuran bulan kemarin. Bilang sama Bu Guru yang bulan ini Mamak bayar minggu depan, ya,” kata Mamak memberikanku amplop putih berisi uang.
“Tidak usah, Mak. Nanti kalau aku menang lomba uangnya buat bayar iuran sekolah sama belikan lampu petromak baru.”
Nang, uangmu biar buat tabungan kamu saja, ya. Mamak masih bisa cari uang untuk bayar sekolah kamu.”
“Tapi, Mak.”
“Ah, sudah sana berangkat nanti kamu telat. Sudah ditunggu sama Lik Darjo.”
“Ya, Mak.”

Tuesday, October 4, 2016

Mari Menikmati Wisata Retribusi, Wahananya Banyak Menyenangkan Hati



Namanya wisata retribusi. Pengunjung bisa menikmati wahana karcis di sana-sini. Nikmatnya luar biasa, fasilitasnya tidak ada apa-apa. Hanya pohon hijau yang bawahnya berceceran sampah. Pengelolanya ramah sampai pengunjung pulang dengan penuh kesan. Kesan mendalam sampai tidak mau datang lagi.

Berkali-kali sebenarnya aku ke tempat ini. Hanya sekedar naik sepeda pagi-pagi. Atau bersama teman dari masa kecil, luar kota, sampai yang baru bertatap muka. Menghabiskan berbagai kenangan dari matahari terbit sampai tenggelam. Dalam keadaan pengunjung ramai ataupun sepi. Lah, wong tempatnya tetangga desa.

Tapi baru kemarin ini, merasakan hangatnya wahana retribusi. Kami bertujuh, hanya aku yang anak lokal. Sisanya teman dari luar kota. Bersama-sama berangkat dari rumahku sekitar jam sembilan pagi. Hari masih panjang walau langit mulai mendung tanda akan datangnya hujan.

Wednesday, May 11, 2016

Hai, Apa Kabar?



Seorang petani merindu musim hujan, agar sawahnya basah, padinya lekas menguning indah. Seorang nelayan merindu musim surut, agar dapat melaut, tanpa gelombang tinggi yang membuat kapalnya hanyut. Seorang penjual terompet merindu musim tahun baru, dimana orang-orang meniupkan lembar demi lembar uang di saku. Seorang ibu merindu musim lebaran, dimana anaknya yang nan jauh di rantau pulang.

photo by instagram.com/kisahkasih_

Sedangkan aku sedang berada di musim rindu. Musim yang datang dan perginya mengalahkan jelangkung. Sungguh aku tidak bisa menahan, mengatur, bahkan mengendalikan musim rindu. Musim dimana hanya aku yang rasa. Orang-orang mana mau tahu. Bahkan kamu yang aku rindu pun mungkin tak merasa. Seperti daun yang jatuh tanpa angin, tanpa kemarau. Dan jangan tanya kenapa? Karena aku pun tak tahu jawabnya.

“Pesan apa, Mba?” tanya seorang pelayan laki-laki yang aku tak tahu siapa namanya. Masih ingatkah kamu? Dulu Siti yang suka menanyai hal ini. Masih melekat di benakku, nama gadis yang lebih muda dariku itu namanya bukan Siti. Hanya kamu dengan gaya menggodamu, memanggil dia Siti. Dia pun menggodamu balik dengan memalingkan tubuhnya yang ramping. Pergi meninggalkan rayuanmu yang justru semakin membuatmu tergoda.

“Capuccino latte,” jawabku sambil tersenyum, tanpa melihat daftar menu lagi. Kamu pasti tahu kenapa. Ah, bahkan aku sangat ingat sebelum aku duduk di kursi ini, kamu sudah memesankan itu untukku. Atau kamu bermain-main dengan Bang Arkan, si seniman kopi. Meracik secangkir capuccino latte spesial hanya untukku, yang kamu gadang-gadang tanganmu sendiri yang penciptanya.

Bibirku selalu menyambut dengan suka cita setiap ciptaanmu. Walau sebaiknya Bang Arkan saja yang membuatnya. Bukan, ini bukan soal rasa. Tanganmu memang cakap meracik kopi, lebih-lebih membuat berantakan penjuru meja kerja Bang Arkan. Itu dulu. Sekarang si pembuat kacau itu tidak ada lagi. Jangankan si pembuat kacau, si seniman kopi itu pun sudah tidak aku cium lagi khas wangi kopinya. Kamu tidak perlu khawatir dengan kerinduanku pada Bang Arkan, baru saja penggantinya tersenyum padaku. Mengacungkan sebuah cangkir seperti berkata, “Spesial untukmu.”

Dari jendela ini terlihat jelas di luar gerimis mulai turun. Hujan kali ini turun perlahan, syahdu membentuk nada rindu. Seperti waktu itu, saat pertama aku melihatmu. Aku tengah dalam kepanikan mengambil jas hujan, bagasi motorku susah sekali dibuka. Sementara hujan mulai melepekkan rambutku yang keriting. Kamu pun datang dengan payung di genggaman tangan kirimu yang keras itu.

Tidak ada kata yang bisa ku ucap, kamu pun hanya memberi tanda dengan anggukan kecil supaya aku memegang payungmu. Dan tangan kekarmu itu mulai membuka bagasi motorku. Hanya sekali sentuh dengan mudahnya bagasi itu bisa kamu buka. Itu lah saat pertama aku mulai memperhatikan apapun yang ada di dirimu. Dan tahukah kamu dari tempat aku duduk sekarang, itu semua terlihat begitu jelas. Seperti sedang melihat film, ingin aku reff dan pause selama yang aku mau.

Ada kalanya saat kita mengingat masa lalu, membuat kita tersenyum kemudian tertawa sendiri. Sekarang, di tempat ini, aku mengingat semua tentang dirimu. Tentang kita. Tergambar jelas guratan senyummu yang manis, semanis brownies kesukaanku. Tawamu yang nyaring mengiringi nada suka cita.

Sekarang, aku sedang duduk di tempat favoritku. Sedang melihat tempat duduk yang dulu menjadi favoritmu. Aku masih sendiri seperti biasa. Di tempat kamu dan teman-temanmu yang biasanya itu, ada segerombolan anak sedang duduk di sana. Mungkin mereka bersahabat seperti kamu dan teman-temanmu waktu itu.

Bedanya, kamu dan teman-temanmu bisa tertawa tanpa henti karena lelucon dari Jono, temanmu yang paling kocak itu. Sekarang, segerombolan anak itu tengah duduk diam menghadap layar laptop, tablet, atau handphone di hadapan mereka masing-masing. Sepi, tanpa kata. Oh, sekali-kali mereka terkekeh. Tentunya terkekeh sendiri karena lelucon dari layarnya, yang tidak dibalas kekehan lagi oleh layarnya.

photo by instagram.com/kisahkasih_
Aku hanya penikmatmu dari sini dari kejauhan. Hanya terhalang sepasang meja dan kursi saja, rasanya sudah sangat jauh dariku. Aku menulis ribuan sajak disini untukmu. Semakin banyak semakin aku merasa jarakku dan kamu semakin bertambah. Aku pikir kamu tidak akan pernah mau tahu siapa aku. Jangankan ingin tahu, aku merasa hanya debu dalam hidupmu. Sekali kau tiup aku akan hilang terbawa angin.

Tapi tidak dengan buku yang ada di tanganku sekarang. Kamu begitu dekat, sangat dekat denganku. Bagaimana tidak, buku ini berisi semua hal tentangku.
Tentang aku yang tengah menulis ribuan sajak untukmu di kursi ini.
Tentang rambutku yang mengembang menutupi wajahku, dari sinar matahari pagi yang menembus jendela di sampingku.
Tentang aku yang tengah susah payah membuka gembok sepedaku di parkiran. Tentang aku yang tidak punya tenaga menghidupkan motorku. Ah, aku payah dalam berkendara.
Tentang aku yang ketiduran di meja ini dengan buku berserakan dimana-mana.
Tentang aku dan capuccino latteku yang tengah memandang syahdu hujan sore itu.
Tentang aku yang menggigit jariku yang sedang panik akan menghadapi ujian kala itu.
Tentang aku, semuanya kamu lebih tahu dari pada aku sendiri.
Dan kamu mengumpulkan coretan pensilmu dalam satu buku ini. Hanya tentangku.

Sungguh ini terlalu, bahkan sampai pengumuman kelulusan aku sama sekali belum memperkenalkan diriku padamu. Tapi kamu, ya kamu, kamu membuat buku ini seolah-olah mengenalku ribuan tahun lamanya. Coretan pensil sketsamu memberi nyawa di setiap gambarku. Kamu tahu, setiap aku menghembuskan napas di tempat yang sama denganmu dadaku terasa sesak. Sesak sekali karena aku tak bisa mengatakan sepatah kata pun padamu, tapi kamu selalu bermain-main di kepalaku.

Sungguh ini menyiksaku, lebih menyiksa lagi karena ada buku ini di tanganku sekarang. Menyiksa karena kita dalam satu ruang yang tersiksa bersamaan, tanpa tahu satu sama lain saling menyiksa. Entah apa dosaku sampai menyiksamu seperti ini? Aku mohon maafkan aku. Maafkan aku yang hanya bisa mencintaimu diam-diam sampai pada detik ini. Yang melukaimu, melukai aku, melukai kita.

Sungguh aku rindu penyiksaan ini. Aku rindu kamu yang menyiksaku dalam setiap hembusan napasku. Dalam setiap kata yang aku tulis untukmu. Aku rindu kamu yang juga menggambarkanku dalam setiap kertas sketsamu, dalam diammu. Rindu ini sebentar lagi membunuhku. Aku mohon jika kamu ada di hadapanku sekarang, katakan satu saja. Walau itu hanya, “Hai, apa kabar?”

Translate

Popular Posts