Thursday, May 31, 2018

Wana Wisata Salam Sari - Tempat Wisata di Jalur Mudik Selatan

Bulan spesial ini selalu ditunggu umat muslim di Indonesia. Sambutannya terasa dari jantung ibukota sampai pelosok gang-gang kecil. Bahkan sampai ke tempat sunyi nan asri di tepian pematang sawah. Semua merasakan suasana khas di bulan Ramadan. Dari mulai membeli perlengkapan beribadah sampai makanan khas ramadan. Ada juga yang mengikuti beraneka ragam kegiatan ramadan sesuai dengan tradisi di masing-masing daerah.
Tahukah kamu? Tradisi ramadan di setiap pelosok Indonesia berbeda-beda. Tapi ada satu tradisi di penghujung bulan Ramadan yang dilakukan semua kalangan. Satu tradisi ini tidak memandang bulu, apapun jabatannya, sukunya, rasnya, warna kulitnya, bahkan yang berbeda agama pun ikut merasakannya.

Wednesday, February 28, 2018

Penganggur Harus Sarapan



Jadi, yang benar penganggur atau pengangguran? Penganggur(n), orang yang menganggur(yang tidak mempunyai pekerjaan). Pengangguran(n), hal atau keadaan menganggur. Ribet banget ya, imbuhan kata secuil saja dibahas. Ya, bagaimana lagi namanya juga penganggur. Hal sepele saja diurus apalagi yang lebih serius.

Yang masih menganggur mana suaranya?

Ugh, kok sepi ya? Kenapa? Kalian malu atau terlalu naif memaksa diri berpikir positif sampai diam tidak mau mengakui keadaan?

Tenang saja. Orang menganggur banyak alasannya. Bukan hanya alasan tidak memiliki pekerjaan saja. Ada yang menganggur karena sakit, keadaan, baru selesai menempuh pendidikan, atau baru keluar dari pekerjaan yang lama.

Sunday, January 7, 2018

Pesona Alcatraz-nya Indonesia

Kalian tahu Alcatraz? Tempat yang konon menjadi penjara paling menyeramkan di dunia. Kali ini saya bukan mau bercerita tentang Alcatraz. Karena saya juga belum pernah menginjakkan kaki di sana. Ini cerita tentang tempat yang disebut-sebut sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Ya, itulah Pulau Nusakambangan.

Pulau dengan luas sekitar 210 km2 ini terkenal dengan penjara kelas kakapnya. Total ada sembilan lapas yang ada di Nusakambangan. Namun sekarang hanya empat yang masih beroperasi, yaitu: Lapas Batu (dibangun 1925), Lapas Besi (dibangun 1929), Lapas Kembang Kuning (tahun 1950), dan Lapas Permisan (tertua, dibangun 1908). Dan sudah banyak nara pidana yang dieksekusi mati di sana. Seram, ya.

Wednesday, November 29, 2017

Jalan Sendiri, Yuk!


Selalu. Sering.

Saya selalu dan sering kali diberi pertanyaan “Apa ngga takut jalan sendirian?”. Mendengar pertanyaan itu rasanya seperti sedang makan ditanya, “Lapar, ya?”. Atau sedang tidur ditanya, “Ngantuk, ya?”. Saya harus jawab apa?

Oke, jalan sendiri memang tidak seperti kegiatan sehari-hari laiknya makan atau tidur. Tapi, bukankah dari lahir sampai mati kita memang sendirian? Anak kembar sekali pun, lahirnya satu-satu. Mati berjamaah sekali pun, dibungkus satu-satu. Tidak ada yang jadi double atau pun triple.
Lalu, kamu masih takut jalan sendirian?

Saya?

Ya, jelas takut lah. Saya manusia biasa yang masih punya perasaan. Bukan segelondong daging mati rasa. Hanya saja-tentu saja-pastinya tingkat ketakutan kita berbeda. Antara 1-10, tingkat ketakutan saya mungkin 3 atau 4. Sedangkan kamu, bisa jadi 100 dari 1-10. Saking menyiksanya sampai mengetahui saya yang orang lain melakukan perjalanan sendiri saja, kamu sudah ketakutan mau mati. Padahal yang berjalan itu saya, BUKAN KAMU.

Tentang musibah atau pun hal-hal dalam perjalanan yang tidak diinginkan. Tentu apa pun bisa terjadi, bahkan tidak perlu kemana-mana hanya berdiam diri di rumah saja, apa pun bisa terjadi. “Tapi, kan, kalau pergi jauh-jauh nantang maut, cari masalah deh!” Halo! Memangnya kalau di rumah saja kamu tidak akan punya masalah?

Saya perempuan yang walau ribuan Kartini bersuara tetap saja, SAYA PEREMPUAN. Katanya, tidak baik jalan sendiri, kami kaum yang lemah, tidak boleh mandiri, harus manja, dan tabu melakukan semuanya sendirian apalagi berkata tentang keberanian. PAMALI.

Prinsip hidup setiap orang memang berbeda-beda. Saya tidak menyalahkan mereka yang penakut. Tidak juga membenarkan mereka yang pemberani. Karena sebaik-baiknya penakut dan pemberani adalah mereka yang mampu menghadapi apa pun masalah yang tengah terjadi.

Lalu bagaimana caranya agar bisa berani jalan sendirian? Atau minimal bisa mengatasi masalah apa pun dalam perjalanan?

Semuanya bermula dari hati dan pikiranmu sendiri. Banyak orang yang takut jalan sendirian bukan karena masalah yang sedang terjadi. Tapi justru terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Bahkan untuk terjadi saja itu tidak mungkin.

Tidak ada perjalanan yang sempurna. Bahkan rame-rame pun tidak menjamin perjalanmu akan menyenangkan. Saya sudah mencoba berjalan sendiri dan rame-rame. Sejauh ini jalan sendiri membuat saya ketagihan.

Justru jalan sendiri lebih banyak ceritanya. Saya memiliki banyak ruang untuk mengeksplore tempat yang saya kunjungi dan diri saya sendiri tentunya. Jalan sendiri membuat semua anggota tubuh saya bekerja. Saya benar-benar merasakan apa itu hidup sebenarnya.

Jalan sendiri bukan sekedar tentang takut dan berani. Lebih dari itu, jalan sendiri benar-benar melatih semua macam sifat, sikap dan perilaku kita. Bagaimana menghadapi orang asing? Bagaimana merawat dan melindungi tubuh dengan baik? Bagaimana menghormati dan menghargai budaya setempat? Bagaimana mengelola keuangan agar cukup? Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lagi yang lainnya.

Tidak mudah melakukan semua itu. Tidak semua orang juga bisa melakukannya. Kebanyakan orang takut sendirian karena takut dikatai orang lain, “Kasian jalannya sendirian.”. Saya justru bangga bisa jalan sendiri. Sedikit pun saya tidak merasa hidup saya kasihan. Justru lebih kasihan kalau saya cuma bisa merepotkan orang lain, penakut, dan tidak mandiri.

Kalau kalian ingin mencoba berjalan sendiri ke tempat yang baru dan tidak ada seorang pun yang kalian kenal di sana. Cobalah berlatih yang terdekat dulu. Bukan, bukan ke rumah tetangga. Tapi latihlah hatimu dulu. Karena segala sesuatu bermula dari hati dan pikiranmu sendiri.

Tidak dipungkiri kami kaum perempuan dibentuk peradaban untuk bermanja-manja ria. Saya sering heran melihat kaum saya sendiri takut dengan hal-hal yang hanya didengar dari orang lain. Bahkan kejadian pun belum tentu. Tapi heboh takutnya sudah luar biasa. Mau bagaimana lagi bawaan tanah harus lebay.

Sedangkan kaum sebelah, alias laki-laki, diberi label berani dari lahir. Padahal banyak loh, laki-laki yang penakut. Tapi tidak terlihat karena terbungkus rapi oleh anggapan. Mereka angkuh padahal juga rapuh.

Saya tidak menyalahkan perempuan yang takut bepergian sendirian. Lalu, merasa jumawa karena saya bisa dengan mudah melakukannya. Toh, tidak pergi ke mana-mana juga harus punya keberanian. Berani menahan nafsu tidak tergoda hal-hal indah kata orang di luar sana. Berani menjadi orang yang tidak banyak pengalaman. Berani memilih kehidupan dalam zona aman. Tinggal kamu pilih, beranimu mau ditempatkan di mana?

Jadi, kurangi anggapan perbanyak jalan. Agar kamu tahu apa yang sebenar-benarnya benar.

Saturday, September 30, 2017

Pesan Untukmu, Kekasih





Kekasih, bagaimana kabarmu hari ini? Sudahkah kau membaca pesanku? Aku sedang berada di gerbong 5/12A. Dalam perjalanan Pasar Senen-Purwokerto yang pernah menjadi awal hubungan kita. Aku kirim pesan itu tepat setelah kereta berangkat. Tepatnya setelah aku berhasil menata napas yang berlari-lari dikejar waktu. Kau tau kan, kalau kereta tidak pernah ingkar waktu meski ekonomi sekali pun.

Pagi tadi aku bangun dengan terburu-buru. Bukan karena tas yang belum dikemas. Tapi hati ini begitu cemas. Memikirkan kamu yang tak kunjung memberi kepastian. Padahal kau tau aku tak pernah sedikit pun membiarkanmu kesepian. Sembilan jam perjalanan akan aku lalui hari ini. Kau tidak perlu khawatir perjalanan panjang ini tidak akan membosankan untukku.

Bagaimana tidak? Berada di gerbong ekonomi Serayu terasa begitu dingin dengan pendingin ruangan yang selalu menyala sepanjang perjalanan. Bajuku yang panas berkeringat karena lari, bisa tidak lebih dari sejam langsung kembali kering. Belum lagi pemandangan pegunungan yang hijau menyejukkan mataku.

Kekasih, kau tidak perlu khawatir aku lupa makan. Tidak, jangan balas pesanku tadi dengan, “Sudah makan belum?”. Kau harus tau beberapa menit sekali para pramusaji berjalan dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Menjajakan makanan yang banyak jenisnya. Aku tinggal membelinya satu sebagai sarapan sekaligus makan siang.

Irit? Ah, tidak juga. Kalau kau tahu, aku bisa membeli dua porsi makanan di luar kereta ini. Tapi aku harus membelinya hanya seporsi karena ini di atas kereta. Aku tidak ada pilihan untuk memilih yang lebih murah apalagi menawar. Tidak ada penjual lain selain pramusaji yang berseliweran tadi. Tidak ada ibuk-ibuk yang berteriak, “Pecel, pecel, pecel!”. Dan teman-temannya yang mulai terusir dari kereta semenjak tahun 2013-an.

Kau juga tidak perlu khawatir, semenjak itu juga keadaan di dalam kereta menjadi aman dan nyaman. Dapat dipastikan hanya ada penumpang dan petugas kereta saja yang ada di sepanjang perjalanan. Tidak ada pengamen yang bernyanyi cempreng. Tidak ada copet yang suka mepet-mepet.

Sepi? Iya, apalagi tidak ada kamu yang sesekali meminjamkan bahu ketika mataku mulai sayup mengantuk. Memang sudah ada penyewaan bantal yang wangi nan empuk. Tapi itu tidak begitu membantu, karena tempat duduk yang senderannya berdiri tegak lurus 90o ini tetap saja membuat punggungku panas. Belum lagi bangku yang busanya mengeras.

Kekasih, seharusnya kau kirimkan pesan padaku, “Sudah sholat belum?”. Aku akan menghela napas panjang kelimpungan membalas pesanmu yang satu ini. Bukan karena memang aku belum pernah bisa sholat tepat waktu. Tapi aku bingung harus sholat di mana. Tenang, untung saja ada tempat duduk kosong di ujung gerbong. Coba kalau semua tempat duduk sepanjang gerbong terisi. Aku bisa melewatkan waktu dhuhur, azhar, dan mungkin saja magrib dalam sehari ini.

Jangan tanya untuk wudhunya bagaimana? Semua aku lakukan seadanya dalam kamar mandi yang airnya ikut bergoyang seiring kereta yang berjalan. Aku tahu seharusnya ini bukan penghalang, apalagi cari-cari alasan. Tapi bolehkan aku berharap bisa beribadah dengan nyaman?

Kekasih, jangan lupa kau harus menjemputku tepat waktu. Jangan biarkan aku terlunta-lunta nyaris menginap lagi di stasiun. Di dalam stasiun memang terjamin keamanannya. Tapi penumpang tidak dibiarkan berada terus-terusan di dalam stasiun. Aku harus keluar walau hari sudah malam. Dan di luar stasiun itu tidak ada yang menjamin keselamatanku, kekasih. Siapa saja bisa menyeretku, memaksa, dan entah apalagi meski aku masih di dalam pagar stasiun.

Aku tahu ini tidak seberapa dibandingkan dulu. Tapi boleh kan aku berharap lebih baik lagi? Kau tahu kekasih, kereta ini bukan baru kemarin sore ada di negeri ini. Ia sudah ada dari 72 tahun yang lalu, bahkan lebih dari itu. Hanya saja angka 72 adalah angka resmi PT KAI bergabung dengan NKRI.

Kekasih, kalau kita sudah 72 tahun akan seperti apa? Kita pasti sudah menua dan punya cucu. Cucu kita kelak mungkin akan menemukan jodohnya di kereta super cepat. Kereta yang lebih aman dan nyaman dari pada sekarang. Kereta yang mungkin bukan hanya menghubungkan satu kota ke kota lain tetapi satu pulau ke pulau lain. Kau pasti tahu, kekasih, negeri kita ini kepulauan. Bukan tidak mungkin bila hal itu terwujud.

Tapi bukan itu intinya. Bukan apa-apa saja yang sudah berubah dan kita dapatkan setelah waktu berjalan. Tapi bagaimana kita bisa berproses terus lebih baik melalui segala rintangan. Terus berinovasi seiring perkembangan jaman. Seperti kereta ini, tetap setia mengantar penumpang selamat sampai tujuan.

Aku tahu, aku juga punya kekurangan, kamu pun demikian. Tapi ingatlah kekasih, orang yang penuh kekurangan itu bukan mereka yang dalam keadaan buruk. Tapi mereka yang tidak mau berproses dan tetap terpuruk.

Salam,
-kasih-

Saturday, September 16, 2017

Ini Dia Spot Menikmati Senja Di Cilacap



“Bro, ini kok ngga sunset-sunset sih?” celoteh teman di sebelah saya dengan mulut penuh siomay.
“Sunset?” saya mengernyitkan dahi dengan alis mata kanan sedikit terangkat.
“Iya, kalau sore kan sunset.”
“Hadew, mana ada sunset di sini. Kamu mau nunggu sampai nenek-nenek juga ngga bakalan keliatan.”

Begitu obrolan saya dengan seorang teman yang baru hijrah dari Jakarta ke Cilacap. Cilacap memang daerah di bagian selatan Pulau Jawa. Kalau secara logika, bisa melihat matahari terbit dengan menengok ke timur dan matahari tenggelam tinggal melihat ke arah barat. Selesai.

Kenyataannya tidak semua tempat seperti itu.

Kalau kalian mengenal Teluk Penyu di Cilacap yang begitu tersohor itu, sesungguhnya si bibir pantai menghadap ke timur bukan selatan. Tau kan arti dari teluk? Hayolo, jangan bilang lupa. Sama. Saya pun lupa, tapi tidak usah panik mari kita piknik.

Teluk adalah perairan laut yang menjorok ke daratan. Begitu pengertian singkat dari teluk, hasil saya piknik di maha dewa google. Jadi di Teluk Penyu ada bagian dataran yang melengkung. Itulah mengapa ada bagian bibir pantai yang menghadap ke timur. Bagian yang menghadap ke timur inilah tempat di mana kita bisa menikmati matahari terbit.

Jadi kalau ada yang mengajakmu, “Nyanset, yuk, ke Teluk Penyu!” Apalagi sampai posting foto matahari di Pantai Teluk dengan caption ”sunset”. Hadew, ini sih ocehan people bumi datar jaman now. Mau nunggu kiamat biar bisa lihat matahari terbenam dari timur kali. Ya monggo, aku sih ogah. Bumiku bulat, kok.

Saya belum pernah menikmati matahari terbit di Teluk Penyu ini. Bahkan matahari terbit di belahan dunia mana pun, nyaris belum pernah saya nikmati. Maksudnya, motret matahari terbit atau sekedar menikmati bangunnya mentari. Malas bangun pagi? Tidak juga. Hanya malas keluar kandang pagi-pagi buta. Pernah mencoba tapi selalu hasilnya tak seindah yang dibayangkan.
Saya kaum senja, yang lebih memilih menunggu dari pada mengejar. Kalau berbicara tentang senja, behhhh, mau di mana pun saya akan bilang, “Ayo!”. Pasti saya langsung berangkat tanpa kemalasan yang menyertai. Sudah baca senja di Bukit Merese yang membuat air mata saya berlinang? Baca dong, di sini ya.

Lalu kalau mau menikmati senja di Cilacap yang syahdu, haru, dan mendayu-dayu ada di mana?

Pelabuhan Sleko

Pelabuhan ini letaknya tidak jauh dari pusat kota Cilacap. Lurus terus ke arah timur kalau kalian dari alun-alun. Di ujung jalan kalian akan menemui plang “Selamat Datang di Pelabuhan Sleko”. Masuk saja cari tempat parkir yang tidak jauh dari dermaga.

Sudah beberapa kali saya ke Pelabuhan Sleko ini. Tapi saya tidak tahu jadwal kapal yang ke atau dari pelabuhan. Setiap kali naik kapal dari Pelabuhan Sleko ini selalu rombongan, jadi sudah pasti kapalnya sewaan. Seperti sewaktu saya ke Pantai Rancahbabakan yang berada di ujung barat Pulau Nusakambangan.

Nah, kalau kalian hanya sekedar ingin menikmati senja di Pelabuhan Sleko ini datanglah saat sore menjelang. Ya, iyalah masa pagi-pagi nyari senja. Saran saya datanglah sekitar jam 5. Memang matahari belum begitu turun. Malahan terkadang masih panas. Tergantung musim juga sih.

Saya dua kali ke sini untuk sekedar menikmati senja. Yang pertama sedikit gagal. Sebenarnya cuaca sedang bagus-bagusnya. Apa daya, ketika waktunya tiba, awan menutupi senja yang sedang cantik-cantiknya. Kedatangan kedua, membuat saya takjup tidak bisa berkata-kata. Senja yang bulat cantik sempurna dengan kapal yang hendak pulang ke peraduan.

Dari kedua waktu yang berbeda itu, ada satu hal yang sama. Kedatangan kapal tangker! Bila kalian tidak suka berselfie ria, kapal tangker ini bisa menjadi hal yang dinanti. Seperti menanti seseorang yang telah lama pergi. Ia akan ada walau rasa tak sama lagi.
Kapal tangker yang selalu lewat ketika senja di Pelabuhan Sleko
Sesungguhnya senja kali ini tidak memiliki makna yang begitu berarti untuk saya pribadi. Seolah-olah sudah ribuan senja saya temui, semuanya sempurna sampai tidak menemui makna. Tapi senja tetaplah senja, mau jutaan kali datang tetap tak akan kehilangan panggung. Ia akan tetap berdansa dengan segala macam romansa. Mengalunkan nyanyian untuk jiwa yang kesepian. Memainkan peran sebagai tokoh yang selalu dirindukan. Merayakan hingar-bingar bak petasan yang menggelegar.

Pantai Sodong

Tempat kedua yang saya sarankan tapi tidak saya sarankan. Kok seperti tidak niat? Iya, sampai detik ini saya masih mendengar perlakuan tidak nyaman di pantai yang satu ini. Kalian bisa membacanya di sini untuk lebih tahu apa yang pernah saya alami. Dan hal serupa masih saja berjalan dengan baik sampai saya menulis ini.

Pantai Sodong terletak di Desa Karangbenda Kecamatan Adipala. Kurang lebih berjarak 25 km dari pusat kota Cilacap ke arah timur. Kalian bisa tahu arah jalannya dari postingan saya tentang View Gunung Selok. Yap, Pantai Sodong dan Gunung Selok masih satu lokasi.

Hamparan pantai yang kalian lihat di View Gunung Selok itu adalah Pantai Sodong. Pantai dengan panorama komplit ini sebenarnya bisa menjadi primadona. Sayang, ah, kalian baca saja postingan saya tautkan pertama.

Bagaimana tidak menjadi primadona?

Pantai Sodong tepat dibawah Gunung Selok dengan aliran sungai dan persawahan yang memisahkannya. Di tepian pantai banyak ditumbuhi pohon cemara yang berjejer teduh. Apalagi kalau datangnya sore hari menjelang senja.

Kalian akan melihat pemandangan seperti ini:
Senja horey di Pantai Sodong.
Waktu saya datang memang bukan saat yang tepat karena senjanya tertutup awan. Kalau kalian datang di waktu yang tepat, mungkin akan lebih bagus mendapatkannya. Tentang kesannya, ya, tergantung perginya sama siapa.

Bukankah sebaik-baiknya perjalanan bukan tentang pemandangan. Tapi tentang manusia yang hidup, menghidupi, dan dihidupi karenanya.

Dan, bila kalian bertanya padaku, “Senja mana yang paling melekat di hati?”. Semuanya! Bahkan ketika cahaya jingga menyelinap masuk lewat jendela. Yang saya nikmati pergantian warnanya ketika baru bangun tidur di sore yang enggan. Tetap meninggalkan rasa di dada. Entah sendu, syahdu, ragu, atau malu.

NB: Dan tentang senja di Cilacap, selanjutnya pasti ada lagi. Tungguin part selanjutnya, ya! (Ini adalah penutupan sebagai upaya agar dibilang travel blogger) (padahal, nganu) (apalagi judulnya, duh!)

Thursday, August 24, 2017

Galau Permanen



Bolehkah saya galau? Tentu boleh. Siapa yang bisa melarang perasaan? Bukankah setiap hati yang bernyawa berhak punya rasa. Tidak apa galau gelisah gundah gulana. Asal tahu waktunya, asal tahu caranya, asal tahu tempatnya, jangan sampai asal-asalan.

Sebab dari masalah seringnya tidak tahu waktu, menjadi malu yang berujung pada malu-maluin. Padahal semua orang mungkin pernah merasakan hal yang sama. Tapi ketika galau yang sama menimpa orang lain, ada saja yang menertawakannya.

Galau selalu punya masanya.

Saat masih kecil, kita sangat bingung kelimpungan hanya karena belum mengerjakan PR matematika. Beranjak remaja, PR matematika terasa biasa berganti resah hanya karena gebetan tidak membaca pesan. Sedikit dewasa, PR tidak pernah jadi masalah, pasangan mulai mendapatkan yang nyaman, tinggal pusing lulusnya kapan. Sudah lulus, sudah punya pasangan, tapi kantong kempes tidak punya penghasilan. Kantong terisi, perut kian membuncit, giliran “kapan nikah?” menghantui tanpa henti. Sudah menikah masih saja bimbang belum ada momongan. Si bayi lahir malahan makin pusing dengan cicilan, si anak yang rewel, tidak bisa jalan-jalan, tidak punya kesenangan.

Masihkah kamu ingin beranjak tua?
Sebenarnya masalah di hidup ini adalah tanda kamu masih hidup, masih punya otak untuk berpikir. Kok menyebalkan, ya? Mau bagaimana lagi, justru hidup tanpa masalah itu seperti sayur tanpa garam. Hambar tidak ada rasanya. Lalu bagaimana caranya agar tidak keasinan? Gampang, tinggal tambah gula. Mau pedas? Tambah cabai.

Saya bukan orang baik yang hidupnya baik-baik saja. Saya bukan siapa-siapa yang punya apa-apa. Pekerjaan tetap tidak punya, bahkan banyak orang menganggap saya sebagai pengangguran. Pasangan tidak punya, tampang pas-pasan, pendidikan rendah, solehah pun tidak.

Tapi ketika saya melihat sekeliling, mengapa saya yang terlihat paling bahagia? Saya menulis ini dengan geli segeli-gelinya. Bagaimana tidak, hidup saya penuh timbunan masalah. Tapi mereka yang hidupnya jauh lebih baik dari saya justru tidak terlihat bahagia. Mengeluh terus kerjaannya. Sampai-sampai tidak ada ruang sedikit pun di hidupnya, walau hanya sedetik saja ada warna.

Saya sering tertawa bila ada teman datang dengan membawa berkarung-karung kegalauan. Ketika mereka galau karena percintaan, saya suruh putuskan saja, mereka malah semakin memaki saya. Ketika mereka galau karena pekerjaan, saya suruh keluar saja, mereka semakin menderita. Pun dengan mereka yang galau karena disuruh lekas menikah tapi tak ada pasangan. Mereka yang tidak punya uang, kerjaan pun tak pernah datang.

Dari segala macam kegalauan itu satu hal yang saya pahami. Bahwa kegalauan itu tidak ada urusannya dengan status, masalah, atau pun ketiadaan. Mereka yang ada dan berada tidak bisa menghindari kegalauan. Karena galau adalah sikap dan sifat.

Orang yang memilih galau sebagai sifatnya, masalah dalam hidupnya tidak akan pernah selesai, kapan pun juga. Galau jomblo, sudah dapat pasangan makin galau. Galau tidak punya uang, sudah dapat kerjaan makin galau. Beda dengan orang yang memilih galau hanya sebagai fase tahapan dalam hidupnya. Mereka tetap bahagia ketika berada dan ketiadaan.

Banyak sekali orang yang senang tenggelam dalam kegalauan. Ketika ditolong justru tidak mau, malah semakin galau ketika masalah itu berakhir. Lebih banyak lagi orang yang punya segalanya, justru segalanya itu ada karena galau selalu melanda.

Saya tidak mengerti mengapa orang-orang mempermasalahkan jomblo, pengangguran, bodoh, jelek, perawan tua, atau mandul sebagai sumber masalah. Padahal asal kalian tahu orang yang punya pasangan, pekerjaan mapan, jabatan, cantik, pintar, keluarga dan anak tidak ada yang bebas dari masalah.

Kalau saya ceramah begini kalian mungkin akan teriak, “Kamu ngga ngerasain, sih!?!”

Oke, mungkin saya tidak merasakan apa yang sedang kalian alami. Saya hanya bisa berpesan, hatimu itu berhak punya kebahagian. Rawat dia jangan sampai terluka. Ini bukan untuk orang lain, ini untuk dirimu sendiri. Hidup ini sungguh sangat mudah, yang membuat susah terkadang manusia senang mencari masalah.

Tidak apa, kamu miskin, jelek, jomblo, mandul, dan lain sebagainya. Hal-hal mengenai kesuksesan duniawi yang anggapan orang itu, hanya enak dilihat saja kok. Sama sekali tidak enak dirasakan. Seorang ibu penjual rawon yang saya temui dalam perjalanan berpesan, “Jangan jadi orang sukses, Mba. Orang sukses susah tidurnya.”

Menjadi sukses, kaya, pintar, cantik, menikah, punya anak, dan segala macam tetek bengek tolok ukur kesuksesan dunia itu sangat mudah. Menjadi susah itu ketika kamu tidak bisa menyeimbangkannya. Percayalah, lebih mudah lolos dari kemiskinan daripada mengatasi sombongnya kekayaan.

Lalu bagaimana lolos dari kegalauan yang berkepanjangan?

Kalau kalian galau karena belum menikah, lolos dari kegalauan itu bukanlah cepat menikah. Kalau kalian galau karena tidak punya pekerjaan, lolos dari kegalauan itu bukanlah mencari kerja. Kalian harus bisa lolos dari rasa galau itu sendiri. Caranya, berdamailah dengan diri sendiri.

Omongan orang memang tidak akan pernah selesai. Apalagi omongan keluarga, mereka selalu merasa punya kuasa sepenuhnya dalam hidupmu. Termasuk berperan aktif dalam kehancuran hidupmu. Sangat jarang bahkan mungkin sangat sedikit dan nyaris tidak ada. Keluarga yang mau menerima anggota keluarganya apa adanya. Sedikit saja terlihat berbeda dari yang lain, rasanya harus dibinasakan.

Serius.

Kita sesungguhnya bisa mudah lolos dari kegalauan. Tapi sangat susah lolos dari kegalauan yang diakibatkan omongan orang.

Kita berada ditatanan budaya masyarakat yang habis A harus B, B selesai lanjut C, begitu seterusnya. Belum lagi budaya ramah tamah yang sesungguhnya cuma basa-basi-busuk. Ketika satu hal tahapan dalam hidup ini berbeda dengan yang sewajarnya, musnahlah kamu dari dunia. Siap-siap saja jadi bahan nyinyir umat di dunia.

Lalu bagaimana lolos dari nyinyir umat di dunia terutama keluarga?

Ini susah-sangat susah, terutama ada embel-embel keluarga. Mau dibantah, nanti durhaka. Dituruti, nyinyirnya setengah mati. Tenang saja kalau kalian sudah punya bahan untuk dipamerkan, mereka akan diam dengan sendirinya. Nyebelin sih, tapi itulah salah satu peran keluarga. Menjadikan kamu objek pamer semata.

Saya tidak bisa memberi saran secara pasti soal keluarga ini. Karena keluarga saya dan kalian tentunya berbeda. Bagi saya keluarga hanyalah status belaka, yang mengatur saya bahagia atau tidak tetap saya sendiri. Tuhan mengatur saya lahir di keluarga ini bukan tanpa alasan. Saya juga punya pilihan untuk ada atau tidak bersama mereka. Bukan berarti tidak ada cinta lagi. Hidup bersama bertahun-tahun tentu ada rasa. Hanya saja saya bangga dengan apa yang saya lakukan, sedangkan mereka tidak berada dalam zona yang sama dengan saya.

Kalau kalian mau terhindar dari galau yang permanen itu, ayolah mulai dari diri sendiri. Jangan terlalu ingin menjadi orang lain, kamu tidak tahu ada apa dibalik kesuksesan seseorang. Jangan memulai obrolan yang berpotensi menyinggung perasaaan orang lain. Kalau kalian merasa tidak enak diberi pertanyaan itu, ya, jangan tanya ke orang lain. Dan mulailah berdamai dengan diri sendiri. Hidupmu sungguh lebih berarti, dimulai dari dirimu sendiri. Bahagiakan hatimu, bahagiakan hidupmu.

Tabik!

Translate

Popular Posts