Showing posts with label paralaks. Show all posts
Showing posts with label paralaks. Show all posts

Friday, February 10, 2017

Dear Pencuri Foto, Baca Ini!



Seorang teman mengirimi saya pesan pribadi terkait unggahan foto milik saya di sosial media. Bukan karena saya menyebarkan foto yang tidak senonoh atau melanggar SARA. Justru karena foto yang saya unggah termasuk golongan bagus untuknya. Dan bukan memuji, justru dia mengkritik foto saya. Kenapa demikian? Karena foto saya tidak disertai watermark dan teman saya takut foto saya dicuri kemudian disalah gunakan orang yang tidak bertanggung jawab.

Segala sesuatu yang ada di internet memang sangat mudah sekali dicuri. Tinggal klik copy lalu paste, selesai. Curi mencuri foto di internet sering kali terjadi. Ini tidak hanya terjadi pada saya. Banyak teman-teman yang pernah mengalaminya. Mau yang fotografer profesional atau pun yang amatir. Dan tidak tanggung-tanggung yang mencuri dari perorangan sampai perusahaan besar pun pernah melakukannya. Dari yang bermotif iseng belaka sampai yang memang untuk kepentingan komersiil.

Tuesday, November 29, 2016

Pantai Di Cilacap Part 4: Bersepeda Pagi Ke Pantai Bunton



“Mba, besok pagi sepedaan, yuh,” kata Mamah di malam minggu yang pahit ini.

Malam di mana muda-mudi seusiaku sedang berhaha-hihi di pojok sebuah cafe. Entah ada gunanya atau tidak, yang penting eksis dulu. Agar tidak terlihat merana. Aku? Mana bisa nongkrong di malam minggu.

Bukan hanya karena status yang menyakitkan itu. Tapi nongkrong di dekat tempat tinggalku, itu cuma bisa dengar jangkrik main gitar akustik. Atau paduan suara dari kodok yang nongkrong di pojok-pojok sawah. Yang paling aku suka hanya nyanyian angin sunyi, di mana bisikannya selalu menenangkan.

“Mba,” Mamahku memanggilku lagi untuk meyakinkan kalau anggukan kecil yang aku berikan benar-benar jawaban, iya.

“Emmmm, ya,” suaraku keluar dengan malasnya.

“Kamu itu perlu sepedaan, keluar rumah biar sehat. Kalau di ... .”

“Iya, besok sepedaan,” kali ini aku cepat menyahut karena benar-benar malas mendengar ocehan Mamahku. Yang semakin dibiarkan semakin menjadi-jadi.
Sepeda yang aku pakai pagi ini.

Tuesday, October 4, 2016

Mari Menikmati Wisata Retribusi, Wahananya Banyak Menyenangkan Hati



Namanya wisata retribusi. Pengunjung bisa menikmati wahana karcis di sana-sini. Nikmatnya luar biasa, fasilitasnya tidak ada apa-apa. Hanya pohon hijau yang bawahnya berceceran sampah. Pengelolanya ramah sampai pengunjung pulang dengan penuh kesan. Kesan mendalam sampai tidak mau datang lagi.

Berkali-kali sebenarnya aku ke tempat ini. Hanya sekedar naik sepeda pagi-pagi. Atau bersama teman dari masa kecil, luar kota, sampai yang baru bertatap muka. Menghabiskan berbagai kenangan dari matahari terbit sampai tenggelam. Dalam keadaan pengunjung ramai ataupun sepi. Lah, wong tempatnya tetangga desa.

Tapi baru kemarin ini, merasakan hangatnya wahana retribusi. Kami bertujuh, hanya aku yang anak lokal. Sisanya teman dari luar kota. Bersama-sama berangkat dari rumahku sekitar jam sembilan pagi. Hari masih panjang walau langit mulai mendung tanda akan datangnya hujan.

Monday, October 3, 2016

Mengeluh Di Hari Senin, Berarti Kamu Mengkhianati Nikmat Tuhan



Aku tidak tahu sebenarnya hari pertama itu apa? Senin yang memulai aktifitas formal. Selasa yang masih terasa malas. Rabu yang selalu diburu waktu. Kamis yang penuh optimis. Jumat menjelang akhir pekan. Sabtu kelabu karena tak ada yang bertamu. Atau minggu, hari yang katanya ditunggu?

Seperti mesin, sekali pencet jalannya akan sama semua. Semua berbaris rapi mengikuti komando. Disuruh ke kiri, ke kiri semua. Hitam, hitam semua. Bila satu tak sama, kena bully yang lainnya. Apa kalian tidak bosan dengan keberaturan? Ataukah hanya takut dianggap beda.

Aku tidak tahu siapa yang mengajari bahwa senin adalah awal penderitaan. Menjadikan moment mengeluh berjamaah, yang lain harus meng-aamiin-i. Hukumnya fardu ‘ain. Bila tidak diikuti akan mendapat dosa seumur mati.

Thursday, July 14, 2016

Fotografi Dalam Genggaman



Ikutan giveaway ini yuk!

Hampir semua anak muda jaman sekarang punya handphone. Dan nyaris semua handphone itu memiliki kamera. Hal ini menjadikan setiap orang bisa mengambil foto apapun yang mereka mau. Tanpa terkecuali dari balita sampai manula bisa dengan mudah memfoto.

Lagi makan, cekrek. Pergi jalan-jalan, cekrek. Baru mandi, cekrek. Ada kecelakaan, cekrek. Mau nonton, cekrek. Mau naik pesawat, cekrek. Beli barang baru, cekrek. Bangun tidur, cekrek. Sampai lagi p*p pun, cekrek. Apapun momentnya senyum dikit, cekrek. Apakah itu salah? Menurut saya, tidak sepenuhnya salah.

Setiap orang punya cara sendiri dalam proses pendewasaan. Lama-kelamaan juga mereka sadar kalau itu tidak terlalu penting. Atau tergantikan dengan budaya baru yang berkembang di masyarakat. Coba saja lihat dirimu. Dulu main friendster dengan theme yang lucu-lucu dan nama yang unik. Sekarang mana mau kita seperti itu lagi.

Tuesday, July 5, 2016

Kue Lebaran Mbah Atmo



Lebaran, rumah Mbah Atmo mulai ramai dengan anak cucunya yang pulang. Dari sembilan anaknya, tentu yang datang terlebih dahulu Si Tiga. Selalu dia yang paling semangat untuk pulang. Statusnya yang menjadi anak laki-laki tertua, mengharuskan dia menjadi garda paling depan. Merasa bertanggung jawab dengan segala hal yang terjadi.

Yang paling malas Si Tujuh. Entah apa yang dia lakukan, dari kecil tidak pernah mau ikut berkumpul. Si Pertama dan Si Kedua, selalu mendahulukan mertua. Ya, namanya juga perempuan. Hakekatnya nurut suami kan? Si Empat dan Si Enam selalu kompak datang bersamaan. Menyewa mobil dari kota, kompak dari datang sampai pulang.

Si Tiga dan Delapan pastilah datang saat hari lebaran. Rumahnya dekat, di desa seberang. Si Lima hanya datang dalam bentuk bingkisan. Dia jauh di perantauan, sedang dalam masa penugasan. Rindu memang, tapi mau bagaimana lagi daripada Si Bungsu.

Wednesday, March 9, 2016

Benarkah Traveling Membuat Bahagia?



Budaya traveling sekarang ini kian mewabah. Banyak tempat wisata baru yang bermunculan karena postingan di media sosial. Kemudian orang-orang berlomba-lomba mendatanginya. Memposting foto-foto keren di medsos biar dianggap kekinian. Kalau sudah begitu langsung serta merta mencap dirinya BAHAGIA.

Sebagian besar orang menshare foto liburannya di medsos pasti yang bagus. Pemandangan yang bagus, pose yang bagus, outfit yang keren. Pokoknya selalu terlihat bagus deh. Hal ini membuat tolok ukur bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang hidupnya sering traveling atau bepergian. Benarkah orang yang traveling pasti bahagia?

Tuesday, June 2, 2015

Aku Dipecat!

Pada akhirnya aku memang harus menyerah mengakhiri semua ini. Aku tidak pasrah. Hanya saja aku sudah jengah. Ini bukan keputusan mereka. Ini keputusanku. Aku yang ingin semua ini berakhir.

"Aku dipecat," begitu isi bbm aku ke Imah, Siska, dan Lulu. Mereka sahabatku dari SMK.
"Serius?", "Beneran?", "Masa sih?" aku sudah tahu balasan mereka. Ekspresi mereka waktu membacanya pun aku sudah tahu. Bahkan sebelum aku dipecat.
Dan aku pun sudah mempersiapkan jawabannya, "Iya,hahahaha"

Monday, June 1, 2015

Hari Pertama Sebuah Akhir

Ini terlihat permulaan. Tapi nyatanya justru akhir dari segalanya. Semua baru dimulai. Tapi hatiku sudah bosan. Harusnya aku akhiri saja permulaan ini. Tapi kalau diakhiri sekarang mulainya mau kapan?

Monday, June 18, 2012

14 Mei 2012


Malam ini aku sedang di kamar mempersiapkan hari esok. Seperti biasa kamar jadi berasa sempit kalau kaya gini. Semua barang ada dimana-mana. Seolah-olah isi lemari keluar semua. Aku mengambil buku agendaku yang sengaja ku pilih penuh warna supaya senang menulis dan membacanya.

Hufh, ku hela nafas. Banyak yang harus kulakukan dalam waktu dekat ini. Terutama besok. Oke, berarti sekarang waktunya mberesin kamar sebelum tembok kamar roboh membendung barang yang berantakan ini. Selesai semuanya. Aku membaringkan badan ku di tempat tidur yang sudah siap membawa ku ke alam mimpi.

Untung malam ini tidur ku berkualitas. Aku bangun dengan semangatnya untuk hari ini. Aku mencuci muka ku agar lebih segar. Sesuai dengan agenda, aku merendam baju kotor ku yang sudah menggunung di tempat cucian. 
"Mah, detergennya dimana?"
"Udah habis, kamu beli sana", jawab Mamah sambil sibuk dengan pekerjaan paginya.

Aku pergi ke warung yang selisih 3 rumah dari rumah ku dengan mata yang sayup-sayup. Walaupun sudah cuci muka. Selesai beli detergen aku masuk ke rumah dengan perasaan aneh. Entah apa, tapi perasaanku tidak enak. Belum sempat aku menuangkan detergen ke rendaman ku, aku keluar rumah untuk memastikan persaaanku. Baru sampai ruang tengah keluarga ku, mata ku terbuka lebar melihat sudut lemari yang sudah kosong tak ada penghuninya.

Laptopku ilang. Aku tak percaya. Aku memastikan bahwa ini tidak nyata.
"Mah, mamah tau laptopku dimana?" tanyaku dengan nada panik.
"Ya ditempatnya", jawab Mamah santai.
"Ga ada Mah", aku makin panik.
"Dicari dulu, dikamarmu kali."
Aku berlari ke kamar ku dengan harapan luar biasa, semoga ada. Tapi tak ada. Aku berlari lagi ke ruangan lain, ke ruang tamu, ke kamar adik ku, ke semua ruangan. Tidak ada!

Saturday, May 12, 2012

Fakta Pengangguran

SD - SMP - SMA - Kuliah - Kerja - Nikah - punya anak - punya cucu - mati. Fase yang lazim dipake semua orang atau minimal sebagian besar pengin punya fase hidup seperti itu. Tapi hidup bukan hanya sekedar tulisan belaka. Ini dunia nyata. Rencana hanya sekedar rencana. Pada kenyataannya tidak semua berjalan dengan baik.


Translate

Popular Posts